
Waktu kecil, rambut gue lurus. Tanda-tanda transformasi di kepala gue mulai terlihat saat gue naik ke kelas tiga SD. Hal itu juga dibarengi dengan kebiasaan gue yang sering memakai minyak rambut secara berlebihan sejak kelas satu.
“Bu, rambutku sekarang, kok, jadi ikal, sih?” tanya gue kepada Nyokap pada suatu pagi sebelum berangkat sekolah.
“Nah, akhirnya ko rasakan sendiri, to? Susah sekali ko dikasih tahu,” ucap Nyokap sambil mendengus, “Makanya, jangan terlalu banyak pakai minyak rambut! Kemarin Ibu lihat ko pakai minyak rambut sampai satu kepal tangan!”
“Tapi, Bu, kalau pakainya cuma dikit, nanti nggak mengkilap—”
“Mo dibikin selicin apakah rambutmu itu?! Kayak kulitnya ikan pare?!”
#CRING menceritakan perjalanan hidup seorang Indra Widjaya dalam keluar-masuk zona nyaman. Seperti buku-buku sebelumnya, semua cerita di buku ini diangkat dari kisah nyata.
Kalo kamu pikir malam Minggu adalah waktu sibuknya orang pacaran, kamu salah. Kaum jomlo-lah, yang paling sibuk di malam itu. Ada yang pura-pura sibuk dengan ponsel-nya, padahal nelepon operator. Ada juga yang nge-share location di mal atau restoran, padahal lagi meringkuk di kamar melukin guling. Iya, jadi jomlo kesepian itu seperti aib yang harus ditutupi semua orang tidak boleh tahu.
Setidaknya, itulah yang dirasakan Andre jomlo akut bintang lima. Saking akutya, mau pake sepatu aja sendu karena melihat mereka bersatu. Mau makan, jadi kehilangan nafsunya melihat sendok dan garpu sebelahan. Jadi jomlo membuat Andre rentan galau. Hatinya sudah seperti kuburan; sempit, sepi, dan bau menyan.
Tapi demi harga diri, dari Senin sampai Senin lagi, Andre terus berusaha terlihat senang dan bahagia. Statusnya emang jomlo, tapi dia punya prinsip; Yowes, aku rapopo!




