
Syahdan menurut hikayat, Syekh Jafar Shadiq -alias Sunan Kudus- membawa sebongkah batu dari Palestina ketika tiba di Pulau Jawa. Apakah sesungguhnya keistimewaan batu itu? Benarkah batu itu benar-benar ada? Mengapa Sunan Kudus mau membawa sebongkah batu menempuh perjalanan ribuan kilometer dari Palestina ke Pulau Jawa? Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah bisa dijawab para sejarawan hingga kini, dan tiba-tiba saja pertanyaan itu bertambah bagi Rafka: Mengapa ada orang-orang misterius yang ngotot ingin menemukan dan memiliki batu itu?
Pertemuan Rafka, seorang Linguis muda, dengan sahabat-sahabatnya semasa kuliah, Rian dan Erik, seharusnya menjadi reuni yang santai dan menyenangkan. Sayangnya, Rafka harus mengalami sebuah kecelakaan lalu lintas ketika menjemput Rian di Stasiun Bandung. Rian, sang wartawan, datang bukan hendak berlibur. Ia ingin membuat liputan tentang misteri kematian beruntun beberapa orang mahasiswa. Sementara Rian, seorang staf UNESCO, datang ke Bandung untuk menemui Sekar, putri dari seorang dalang wayang kulit asal Kudus yang menghilang secara misterius.
Kebersamaan Rafka, Rian, Erik, dan Sekar tiba-tiba menjerumuskan mereka pada simpul kaitan di antara kecelakaan lalu lintas yang dialami Rafka dengan misteri kematian beruntun lima mahasiswa dan hilangnya sang dalang. Semuanya menghadapkan mereka kepada Sang Magus dan The Golden Dawn, sebuah perkumpulan rahasia yang mewarisi tradisi esoterik Freemasonry.
Sang Magus –siapakah ia sesungguhnya?
Latihan esoterik dengan usaha sihir keras serta kesetiaan kepada jalur Sephiroth akan menuntun seorang anggota The Golden Dawn kepada tahap tertinggi yang dinamakan Ipsissimus. Saat itulah ia ditahbiskan sebagai Magus, api obor yang menuntun umat manusia menyongsong Fajar Emas, The Golden Dawn. Fajar itulah yang akan membawa Tatanan Dunia Baru, The New World Order, ketika semesta bisa diatur dengan energi pikiran manusia.
Sang Magus membutuhkan benda yang telah menyerap energi alam. Benda yang telah mengelilingi separuh bumi, sehingga banyak menyerap energi kosmik dan energi bumi. Kekuatannya akan menjadi paduan yang selaras dengan kekuatan Sang Magus dalam ritual.
Adakah benda semacam itu?

Mahardika
Zifana biasa dipanggil Kaka atau Dhika, dilahirkan di Bandung pada tanggal 8 Syawal 1401 H sebagai
anak kedua dari empat bersaudara. Sejak SMA, dhika senang menulis dan
menerjemahkan puisi, cerpen, artikel, dam esei. Beberapa diantaranya telah
dipublikasikan di media-media



