
“Risa, kau gemuk!”
“Risa, aku takut hujan!”
“Risa, aku benci disebut hantu!”
“Risa, seandainya gigiku tak ompong!”
“Risa, aku rindu Anna….”
“Risa… terima kasih, biarpun kau jelek, aku menyayangimu. Sama seperti sayangku kepada Annabelle. Jangan berhenti menemuiku karena menemuimu membuatku merasa hidup.”
—Jantje Heinrich Janshen—
Selama ini kita memanggilnya “Janshen”, padahal itu adalah nama belakang keluarganya. Sejak lahir, anak ini dianggap sebagai pembawa kebahagiaan karena siapa pun yang ada di sekitarnya selalu merasa bahagia.
Tak ada yang mau tahu bagaimana kisah hidupnya. Semua sahabat hantuku tak tertarik mencari tahu karena masalah terberat seorang Janshen hanyalah gigi ompong yang membuat anak itu menjadi bulan-bulanan.
Kupikir hidupnya selalu menyenangkan, kupikir harinya selalu dipenuhi tawa. Ternyata aku salah, anak sekecil dan selucu dia harus menghadapi banyak masalah hingga akhir hidup.
Selamat datang di kehidupan si hantu ompong favoritku. Selamat menyelami sisi gelap masa lalunya.
Jangan heran jika mendapatiku sedang bicara sendirian atau tertawa tanpa seorang pun terlihat bersamaku. Saat itu mungkin saja aku sedang bersama salah satu dari lima sahabatku.
Kalian mungkin tak melihatnya.... Wajar. Mereka memang tak kasat mata dan sering disebut... hantu— jiwa-jiwa penasaran atas kehidupan yang mereka anggap tidak adil.
Kelebihanku dapat melihat mereka adalah anugerah sekaligus kutukan. Kelebihan ini membawaku ke dalam persahabatan unik dengan lima anak hantu Belanda.
Hari-hariku dilewati dengan canda Peter, pertengkaran Hans dan Hendrick—dua sahabat yang sering berkelahi, alunan lirih biola William, dan tak lupa; rengekan si bungsu Janshen.
Jauh dari kehidupan “normal” adalah harga yang harus dibayar atas kebahagiaanku bersama mereka. Dan, semua itu harus berubah ketik persahabatan kami meminta lebih, yaitu kebersamaan selamanya. Kini aku mulai menyadari bahwa hidup ini bukan hanya milikku seorang....
Namaku Risa. Aku bisa melihat ‘mereka’.




